Sabtu, 22 September 2012

10 persimpangan jalan ter rumit


Shanghai, China



Moscow, Rusia



Tokyo, Jepang



Paris, Perancis



Chicago, USA



Minneapolis, USA


Florida, USA



New Jersey, USA



Swindon, Inggris



China


loh ini unik yahh..
 

buaya yang memakan 4 korban...



 


Sahar disambar buaya tersebut ketika memperbaiki perahu di muara Sungai Manubar sekitar pukul 08.00. Sahar mengobrol dengan Hamzah di rumah korban yang dekat dengan Sungai Manubar. ”Sebelum kejadian kami sempat minum kopi bersama,” kata Hamzah.

Saat kejadian, Sahar sedang menimba air di kapal kelotoknya yang banyak terisi air. Buaya itu melompat dan menyambar korban yang berada di perahu. ”Kejadiannya tiba-tiba saja,” tutur Hamzah.

 

Melihat korban sedang berjuang melawan buaya raksasa  panjangnya mencapai enam meter dengan berat sekitar satu ton. Lebar tubuhnya sekitar 1,5 meter. Moncong hampir satu meter. Jarak kedua matanya sekitar 25 sentimeter. Hamzah segera meminta bantuan ke tetannga dan anggota TNI Angkatan Laut yang dekat  kediaman mereka.


 
Warga bersama personel TNI-AL, polisi, dan pawang buaya menyisiran sungai. Pawang juga melakukan beberapa ritual supaya buaya mau muncul.
 
Kapolsek Sangkulirang AKP Andi Razak menuturkan, buaya yang sudah diawetkan itu akan disimpan Museum Mulawarman di Tenggarong, Kutai Kartanegara. ”Ini kami lakukan agar masyarakat tepi sungai lebih mewaspadai buaya. Jadi, ketika masyarakat melihat (buaya yang diawetkan itu), mereka akan waspada karena ada buktinya,” ujar Andi. Setelah tertangkap, warga membedah perut buaya, selain ditemukan korban, Sahar, juga ada beberapa tulang kerbau dan tali plastik. Diyakini, sebelum memakan korban manusia, buaya raksasa tersebut sebelumnya makan kerbau, milik salah satu warga Manubar, karena tiga hari sebelumnya, salah satu penduduk kehilangan kerbau.
 
Perlu upaya keras untuk membawa buaya raksasa tersebut ke Mapolsek Sangkulirang. Perahu kelotok tak mampu mengangkut buaya itu. ”Kapalnya nyaris tenggelam,” terang Andi.
Akhirnya buaya dipindahkan ke perahu yang lebih besar dengan derek. Masalah tidak selesai karena perahu itu tidak mampu bergerak karena beratnya muatan.
 
Karena itu, perahu bermuatan buaya itu diseret dengan dua perahu kelotok yang lain. ”Itu pun laju perahu tidak bisa kencang. Perjalanan yang dalam kondisi biasa cukup dua jam, dengan mengangkut buaya itu perlu waktu sepuluh jam,” katanya.
 
Selain itu, untuk membawa binatang itu ke darat memerlukan usaha keras. Perlu 120 orang untuk menarik reptil tersebut hingga halaman mapolsek. Saat berada di halaman mapolsek, buaya itu menjadi objek untuk berfoto bersama warga sekitarnya.
 
Pengawetan buaya raksasa itu dipimpin Kepala Puskesmas Sangkulirang dr Markus Sambo. Markus menyiapkan 20 liter formalin untuk disuntikan ke beberapa bagian badan buaya.
Dia harus membeli formalin ke ibu kota Kutai Timur di Sangatta. ”Di Sangkulirang tidak ada yang jual,” kata Markus.
 
Menurut Markus, jenis kelamin buaya belum dapat diketahui pasti. Dia belum meneliti lebih lanjut hingga kemarin petang. Demikian pula, usia buaya muara tersebut.
 
Dugaan masyarakat, buaya itu berjenis kelamin jantan. Dugaan itu didasarkan pada ukuran badan, kuku, rahang, dan lubang di dekat anus. Usianya diperkirakan 12-15 tahun.
Markus dibantu 19 orang untuk mengawetkan buaya tersebut. Untuk membersihkan isi perut buaya, warga menggunakan lima batang galah.
 
Isi perut yang sudah kosong diisi busa agar tetap mengelembung seperti saat hidup. Sebelum dimasukkan ke perut buaya, busa itu dibasahi dengan sepuluh liter formalin.
Untuk menutup kembali perut buaya yang dibelah, Markus menjahit dengan benang nilon yang biasa digunakan untuk memamcing. Ukuran benang itu adalah yang terbesar.
 
Selanjutnya, buaya yang sudah diawetkan dinaikkan ke meja etalase di tempat parkir Mapolsek Sangkulirang. ”Sambil menunggu etalase kaca yang sudah dipesan,” jelasnya.

Rabu, 12 September 2012

Luar Biasa !!! Ilmuwan Berhasil Menemukan Terompet Nabi Isrofil


 Sebelum kiamat datang, apa yang sekarang di lakukan oleh malaikat Isrofil?

Jawabnya, Sedang membersihkan terompetnya. Mungkin yang ada di benak kita malaikat Isrofil itu seperti sesosok seniman yang asyik mengelap terompet kecilnya sebelum tampil diatas panggung.

Sebenarnya seperti apa sih terompetnya — atau yang biasa juga dikenal dengan sangkakala– malaikat Isrofil itu? Sekitar enam tahun silam sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Prof. Frank Steiner dari Universitas Ulm, Jerman melakukan observasi terhadap alam semesta untuk menemukan bentuk sebenarnya dari alam semesta raya ini sebab prediksi yang umum selama ini mengatakan bahwa alam semesta berbentuk bulat bundar atau prediksi lain menyebutkan bentuknya datar saja.

Menggunakan sebuah peralatan canggih milik NASA yang bernama “Wilkinson Microwave Anisotropy Prob” (WMAP), mereka mendapatkan sebuah kesimpulan yang sangat mencengangkan karena menurut hasil penelitian tersebut alam semesta ini ternyata berbentuk seperti terompet.


Di mana pada bagian ujung belakang terompet (baca alam semesta) merupakan alam semesta yang tidak bisa diamati (unobservable), sedang bagian depan, di mana bumi dan seluruh sistem tata surya berada merupakan alam semesta yang masih mungkin untuk diamati (observable)

Wow, Ilmuwan Berhasil Menemukan Terompet Nabi Isrofil

Wow, Ilmuwan Berhasil Menemukan Terompet Nabi Isrofil

Bentuk Alam Semesta
Di dalam kitab Tanbihul Ghofilin Jilid 1 hal. 60 ada sebuah hadits panjang yang menceritakan tentang kejadian kiamat yang pada bagian awalnya sangat menarik untuk dicermati.

Abu Hurrairah ra : Nabi Muhammad saw bersabda
“Ketika Allah telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah menjadikan sangkakala (terompet) dan diserahkan kepada malaikat Isrofil, kemudian ia letakkan dimulutnya sambil melihat ke Arsy menantikan bilakah ia diperintah.
Saya bertanya : “Ya Rasulullah apakah sangkakala itu?”
Jawab Rasulullah : “Bagaikan tanduk dari cahaya.”
Saya tanya : “Bagaimana besarnya?”
Jawab Rasulullah : “Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutusku sebagai Nabi, besar bulatannya itu seluas langit dan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali.
Pertama : Nafkhatul faza’ (untuk menakutkan)
Kedua : Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan).
Ketiga: Nafkhatul ba’ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).”

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa sangkakala atau terompet malaikat Isrofil itu bentuknya seperti tanduk dan terbuat dari cahaya. Ukuran bulatannya seluas langit dan bumi. Bentuk laksana tanduk mengingatkan kita pada terompet orang – orang jaman dahulu yang terbuat dari tanduk.

Kalimat seluas langit dan bumi dapat dipahami sebagai ukuran yang meliputi/mencakup seluruh wilayah langit (sebagai lambang alam tak nyata/ghoib) dan bumi (sebagai lambang alam nyata/syahadah). Atau dengan kata lain, bulatan terompet malaikat Isrofil itu melingkar membentang dari alam nyata hingga alam ghoib.

Jika keshohihan hadits di atas bisa dibuktikan dan data yang diperoleh lewat WMAP akurat dan bisa dipertanggungjawabkan maka bisa dipastikan bahwa kita ini bak rama – rama yang hidup di tengah – tengah kaldera gunung berapi paling aktif yang siap meletus kapan saja.

Dan Allah telah mengabarkan kedahsyatan terompet malaikat Isrofil itu dalam surah An Naml ayat 87 : “Dan pada hari ketika terompet di tiup, maka terkejutlah semua yang di langit dan semua yang di bumi kecuali mereka yang di kehendaki Allah. Dan mereka semua datang menghadapNya dengan merendahkan diri.”

Makhluk langit saja bisa terkejut apalagi makhluk bumi yang notabene jauh lebih lemah dan lebih kecil. Pada sambungan hadits di atas ada sedikit preview tentang seperti apa keterkejutan dan ketakutan makhluk bumi kelak.

“Pada saat tergoncangnya bumi, manusia bagaikan orang mabuk sehingga ibu yang mengandung gugur kandungannya, yang menyusui lupa pada bayinya, anak – anak jadi beruban dan setan – setan berlarian.”
Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik, jika terompetnya saja sebesar itu, bagaimana dengan peniupnya dan bagaimana pula Sang Pencipta keduanya? Maha Besar Engkau Ya Allah, Allahu Akbar!

Sumber : http://www.forumkami.net