Sahar
disambar buaya tersebut ketika memperbaiki perahu di muara Sungai
Manubar sekitar pukul 08.00. Sahar mengobrol dengan Hamzah di rumah
korban yang dekat dengan Sungai Manubar. ”Sebelum kejadian kami sempat
minum kopi bersama,” kata Hamzah.
Saat kejadian, Sahar sedang menimba air di kapal kelotoknya yang banyak
terisi air. Buaya itu melompat dan menyambar korban yang berada di
perahu. ”Kejadiannya tiba-tiba saja,” tutur Hamzah.
Melihat
korban sedang berjuang melawan buaya raksasa panjangnya mencapai
enam meter dengan berat sekitar satu ton. Lebar tubuhnya sekitar 1,5
meter. Moncong hampir satu meter. Jarak kedua matanya sekitar 25
sentimeter. Hamzah segera meminta bantuan ke tetannga dan anggota TNI
Angkatan Laut yang dekat kediaman mereka.
Warga
bersama personel TNI-AL, polisi, dan pawang buaya menyisiran sungai.
Pawang juga melakukan beberapa ritual supaya buaya mau muncul.
Kapolsek
Sangkulirang AKP Andi Razak menuturkan, buaya yang sudah diawetkan
itu akan disimpan Museum Mulawarman di Tenggarong, Kutai Kartanegara.
”Ini kami lakukan agar masyarakat tepi sungai lebih mewaspadai buaya.
Jadi, ketika masyarakat melihat (buaya yang diawetkan itu), mereka
akan waspada karena ada buktinya,” ujar Andi. Setelah tertangkap,
warga membedah perut buaya, selain ditemukan korban, Sahar, juga ada
beberapa tulang kerbau dan tali plastik. Diyakini, sebelum memakan
korban manusia, buaya raksasa tersebut sebelumnya makan kerbau, milik
salah satu warga Manubar, karena tiga hari sebelumnya, salah satu
penduduk kehilangan kerbau.
Perlu
upaya keras untuk membawa buaya raksasa tersebut ke Mapolsek
Sangkulirang. Perahu kelotok tak mampu mengangkut buaya itu. ”Kapalnya
nyaris tenggelam,” terang Andi.
Akhirnya buaya dipindahkan ke perahu yang lebih besar dengan derek.
Masalah tidak selesai karena perahu itu tidak mampu bergerak karena
beratnya muatan.
Karena
itu, perahu bermuatan buaya itu diseret dengan dua perahu kelotok
yang lain. ”Itu pun laju perahu tidak bisa kencang. Perjalanan yang
dalam kondisi biasa cukup dua jam, dengan mengangkut buaya itu perlu
waktu sepuluh jam,” katanya.
Selain
itu, untuk membawa binatang itu ke darat memerlukan usaha keras.
Perlu 120 orang untuk menarik reptil tersebut hingga halaman mapolsek.
Saat berada di halaman mapolsek, buaya itu menjadi objek untuk berfoto
bersama warga sekitarnya.
Pengawetan
buaya raksasa itu dipimpin Kepala Puskesmas Sangkulirang dr Markus
Sambo. Markus menyiapkan 20 liter formalin untuk disuntikan ke beberapa
bagian badan buaya.
Dia harus membeli formalin ke ibu kota Kutai Timur di Sangatta. ”Di Sangkulirang tidak ada yang jual,” kata Markus.
Menurut
Markus, jenis kelamin buaya belum dapat diketahui pasti. Dia belum
meneliti lebih lanjut hingga kemarin petang. Demikian pula, usia buaya
muara tersebut.
Dugaan
masyarakat, buaya itu berjenis kelamin jantan. Dugaan itu didasarkan
pada ukuran badan, kuku, rahang, dan lubang di dekat anus. Usianya
diperkirakan 12-15 tahun.
Markus dibantu 19 orang untuk mengawetkan buaya tersebut. Untuk
membersihkan isi perut buaya, warga menggunakan lima batang galah.
Isi
perut yang sudah kosong diisi busa agar tetap mengelembung seperti
saat hidup. Sebelum dimasukkan ke perut buaya, busa itu dibasahi dengan
sepuluh liter formalin.
Untuk menutup kembali perut buaya yang dibelah, Markus menjahit dengan
benang nilon yang biasa digunakan untuk memamcing. Ukuran benang itu
adalah yang terbesar.
Selanjutnya,
buaya yang sudah diawetkan dinaikkan ke meja etalase di tempat parkir
Mapolsek Sangkulirang. ”Sambil menunggu etalase kaca yang sudah
dipesan,” jelasnya.